Bahasa ilmiah memang problematik. Ia meniscayakan dua komponen sekaligus: kedalaman makna dan kejelasan artikulasi. Karena dua komponen inilah, pengagum beratnya tak merasa keberatan untuk membuang banyak kalori dalam tubuhnya hanya untuk menyeruput nilai-nilai baru dalam lipatan tiap diksinya yang menantang. Konon, banyak kiai Jawa rela menghabiskan waktu semalam suntuk untuk menghatamkan kitab kuning pada bulan suci Ramadlan. Mereka menemukan dunia ide yang penuh jubelan makna dalam kitab-kitab turats kesayangannya.

Bahasa ilmiah bukan sesuatu yang mudah. Ia tak sama dengan bahasa novel yang selalu memainkan perasaan seseorang. Ia bukan cerpen, syair, puisi dan pantun. Ia adalah kedalaman makna dan kejelasan artikulasi. Di zaman internet—yang dengan sembrono meloloskan beberapa postingan sampah—, bahasa ilmiah menemukan problemnya sendiri. Oleh kalangan Islamis, ia dituduh membawa misi-misi Barat, Yahudi dan penjajah modern. Ia disepelekan. Tak digubris. Dituduh terlalu muluk-muluk. Dituduh sok ilmiah. Serapan-serapan bahasa asing, oleh mereka, dianggap sebagai “penggerogot” iman, pendangkal kemurnian akal terhadap makna Quran dan hadits, tak pantas dikatakan ilmiah. Di sisi lain, serapan-serapan Arab digembar-gemborkan. Ungkapan akhi dan ukhti jadi sebuah identitas. Assalamu’alaikum diganti dengan Selamat Pagi, atau Selamat Sore tak diperkenankan. Bahasa ilmiah memang problematik.

Benar, bahasa Arab mendahului bahasa Inggris dalam perebutan wilayah ilmiah. Tapi jangan lupa, bahasa Yunani mendahului bahasa Arab dalam hal yang sama. Perebutan kekuasaan bahasa ilmiah akan selalu terjadi seturut dengan hegemoni peradaban tertentu. Bangsa Yunani maju-memimpin, bahasa Yunani menjadi bahasa ilmiah. Bangsa Arab maju-memimpin, bahasa Arab menjadi bahasa ilmiah. Bangsa Barat maju-memimpin, bahasa Inggris menjadi bahasa ilmiah. Demikian seterusnya, lengkap dengan lika-liku status quonya. Boleh jadi bahasa Indonesia akan menjadi bahasa ilmiah, entah tahun berapa …

Keruwetan bahasa ilmiah tak boleh dipandang sebagai pembuang waktu. Begitu juga, kepolosan bahasa sastra, tak boleh dianggap sebagai kebenaran mutlak. Menyikapi keduanya harus dengan sedikit memicingkan dahi dan menyelaraskan hati. Butuh sedikit pembakaran kalori untuk mendamaikan antar keduanya: bahasa ilmiah vis-a-vis bahasa sastra. Ulama klasik menganggap bahwa Quran adalah murni kebenaran mutlak. Tak ada perbedaan derajat dalam tiap katanya. Satu kata tak boleh diganti dengan kata yang lain. Kata ini tak boleh disepelekan oleh kata itu. Karena semuanya adalah satu kesatuan dalam Quran. Pemikir Modern dan Kontemporer tak sepakat dengan hal itu. Menurut mereka, bahasa Quran memiliki spektrum berbeda-beda: bagaimana Quran bercerita, memutuskan perkara, menyimpulkan hukum, bermitos dan bersumpah. Bahasa mitos tak boleh disamakan dengan bahasa hukum. Bahasa hukum adalah kejelasan, sedangkan bahasa mitos adalah refleksionis. Bahasa hukum mengungkapkan ketegasan, bahasa mitos tak mesti benar.

Ketika bahasa ilmiah “menjajah” Quran, saya yakin, pasti akan terjadi benturan di sana. Meskipun begitu jelas, sekali lagi saya yakin, tak akan mudah mendamaikan antara kajian Quran dengan kajian ilmiah.
“Kajian Quran vs Kajian Ilmiah”
Anda sendirilah yang harus memutuskan siapa pemenangnya! Atau jangan-jangan tak perlu sebuah pemenang?

Nasr City, 13-27 Desember 2008

About these ads